aku-anak-pantai-loh
Sea & Beach

Aku Anak Pantai Loh..

Aku dilahirkan di sebuah pulau kecil yang mungkin gak akan di Peta (dulu,,tapi sekarang Petanya selalu dibuat dengan skala perbandingan yang besar, jadi Pulau aku bisa masuk ke Peta dehh,,hehe). Wakatobi, itulah saksi bisu dilahirkan nya seorang anak yang gak tahu mau dibentuk seperti apa oleh Sang Pencipta. Buah cinta dari ayahku Safaruddin dan ibu ku Sarinah, maka lahir lah seorang bayi yang gak tahu akan berperan sebagai apa dia kelak di muka bumi ini. Walaupun aku gak inget persis dimana aku dlahirkan, karena pada saat itu memory otak ku belom berkembang ( ya iyalah, baru jebol ke dunia juga.. mana bisa inget,ckck) tapi aku bisa tahu kalau aku dilahirkan di Buranga sebuah kecamatan di Pulau Kaledupa pada hari jum”at (gak tahu jum’at kliwon atau apa nya lah ya) tanggal 15 Juni 1990 melalui KTP ku. Sehingga resmi lah aku menjadi penduduk bumi. Kehidupan aku saat bayi gak ada yang menarik. Aku sering dititipkan hingga umur 1 tahun ke tetangga ku di desa Palea. Kenapa ? bukan karena ortuku malas ngurus aku, tapi karena mereka harus tugas mengajar di sekolah.

 

Orang tuaku adalah guru. Gak Cuma ayahku, tapi ibuku juga. Sepertinya mereka kompak sekali mendedikasikan baktinya untuk membuat anak anak Indonesia terdidik (hmhmhm,,bangga dengan ortu ku). Seingat ku dulu, ibuku tuh sering pulang di siang hari melewati bukit dengan jalanan yang sangat curam dan berlubang. Mengendarai sepeda motor vespa yang sangat butut, udah gak layak pakai sebenarnya. Tapi itulah satu satunya kendaraan yang kami punya waktu itu. Tapi setidaknya aku lebih salut dengan kondisi ibuku dulu, karena nyatanya sekarang dia gak bisa bawa motor, walaupun motor itu sangat mulus dan sangat jauh berbeda dengan motor yang dikenakannya dulu. (hmhmhm,,malah mengalami kemunduran). Nah , kalau ayahku, aku lupa dia sering pulang jam berapa (wkwk,,maaf ya ayah..jadinya kisah ayah gak aku ceritakan di buku ini). Tiba tiba udah ada di rumah aja. Masa kecilku aku habiskan di desa Palea karena ortu ku bertugas ngajar di sana. Desa Palea itu terletak di atas bukit. Makanya cuacanya sangat dingin kalau malam hari (udah kayak di puncak aja). Karena letaknya di dataran tinggi , maka Pulau Kaledupa seluruhnya bisa dilihat dari tempat ini. Coba dulu aku sadar tentang keindahan pemandangan alam di desa itu. Mungkin tiap sore hari aku akan mencari tempat untuk hanya sekedar duduk menanti matahari senja yang akan mulai masuk ke peraduanyya. Menangkap semburat cahaya jingga dari balik bukit (tapi sayang nya dulu belom ada kamera untuk mengabadikan moment itu). Waahh paradiso, surga dunia kawand. Melihat lautan terbentang dari atas bukit itu. Membuat aku ngerasa “fly to the sky”. TO Be Continued…
aku-anak-pantai-loh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *