Diving di Wakatobi part 1
Sea & Beach,  Sulawesi Tenggara,  Wisata Indonesia

Diving di Wakatobi Part 1

Diving di Wakatobi Part 1 – Tahun baru Desember 2012 saya kembali ke Wakatobi dengan melakukan Perjalanan Kontroversial sebelumnya. Saya membawa rombongan diver yang ingin menghabiskan pergantian tahun baru nya di Jantung Segitiga Terumbu Karang Dunia ini. Ada 8 orang yang ikut dengan saya untuk melakukan diving di kampung halamanku sendiri, Wakatobi. Mereka berasal dari Bandung dan Jakarta dan berusia 20 tahun ke atas. Umur yang masih sangat prima untuk melakukan kegiatan diving. Tour Leader dari rombongan ini bernama mbak Sonia. Orang yang selalu intens melakukan komunikasi dengan ku saat mempersiapkan trip diving ke Wakatobi. Mulai dari melobi harga paket sampai memastikan fasilitas yang didapatkan selama trip berlangsung untuk mendukung kenyamanan rombongannya saat trip. Orang nya sangat ramah dan supel saat kami melakukan komunikasi lewat telpon. Dan aku menebak pasti orang nya sangat hiperaktif dan termasuk traveller addicted, terutama untuk wisata bawah laut. Setelah hampir 2 minggu melakukan komunikasi intens, saat saat hari H semakin dekat. Tanggal 26 Desember mereka berangkat dari Jakarta menggunakan pesawat Merpati. Dengan rute Jakarta – Bau Bau. Tiba di Bau Bau pukul 11.30 WITA, dan langsung saya arahkan sebelumnya untuk menuju pelabuhan Murhum menggunakan Taxi. Sebelumnya dia sempat ragu jika di Bau Bau ada Taxi nya, heheh. Mungkin dia mengira Bau Bau adalah tempat yang masih terpencil kalii yaaa ?? hehe. Akhirnyaa, tidak lama kemudian ponsel ku kembali berdering, dan panggilan masuk di ponsel ku dari tadi adalah nomor nya terus. Dia dan rombongannya rupanya telah berada di ruang tunggu Pelabuhan Murhum. Dari suaranya, tampaknya dia sangat khawatir jika akan kehabisan tiket kapal express saat itu. Tapi aku terus meyakinkan bahwa tidak akan ada yang namanya kehabisan tiket di loket. Karena bayar di kapal pun bisa. Aku sengaja melarang mereka untuk membeli tiket di loket karena saya telah berkoordinasi sebelumnya dengan awak kapal express untuk menjemput mereka di ruang tunggu dan mengurus semua pembayaran tiket mereka di atas kapal nantinya. Aku terus meyakinkan dia untuk tetap sabar menunggu awak kapal itu untuk menjemput mereka. Dan dari suarnya dia tampak menyerah dan mengikuti anjuran saya.

<img src="tour ke wakatobi.jpg" alt="rombongan tour ke Wakatobi">

 

Rombongan Diver ke Wakatobi
Setelah menutup telpon dari mbak Sonia, aku cepat cepat menghubungi awak kapal cepat untuk menjemput rombongan saya. Nama nya Muin, dia masih sangat muda. Namun, sudah sangat mahir dalah hal pergombalan. Sampai aku dibuat kesel jika menelpon dia, karena pasti dia akan menggombal dulu baru merespon kepentingan kita. “Hallo Muin, rombongan saya udah di ruang tunggu tuh, cepatan di jemput, ntar mereka panik “. “Iyaa,, nii juga tadi udah kontak kontakan sama ketua rombongannya ” . Syukurlah gumam ku dalam hati, setidaknya aku udah tenang jika rombongan saya tidak akan terlantar di ruang tunggu apalagi jika sampai ketinggalan kapal. Kalau itu terjadi,, semua jadwal wisata diving akan berantakan. Selang 20 menit kemudian, saya mendapatkan telpon dari mbak Sonia lagi. Dia mengabarkan kalau mereka sudah ada di kapal dan sebentar lagi kapal akan berangkat. Mendengar suara nya yang udah lebih tenang dari saat sebelumnya, aku pun merasa ikut lega. ” okee mbak ,, Take care yaaa..”. Dan tak lama saat telpon mbak Sonia terputus, Telpon dari Muin pun ikut masuk. Dengan suara yang terengah engah dia melaporkan kalau rombongan saya udah aman di kapal. heheh,, walaupun dia ngeselin , ternyata bisa diandalkan juga. Terima kasih Muin.
Di sudut yang lain, suasana rumahku tampak sibuk mempersiapkan makan malam untuk menyambut kedatangan tamu ku. Suasana kekeluargaan yang merupakan gambaran masyarakat desa tampak tercermin dengan sangat jelas. Semua tetangga ku mulai dari remaja, ibu ibu ikut berpartisipasi membantu ku menyiapkan makan malam untuk tamu tamu ku. Sesekali canda dan tawa menghiasi kesibukan yang kami jalani. Ada yang memasak, menggoren ikan, merebus kepiting, menyiapkan bumbu untuk ikan bakar, dan aku tentu saja mengambil bagian yang paling ringan yakni memotong  motong sayur kangkung, hehehe. Bukan karena aku gak bisa melakukan pekerjaan yang lain, tapi karena aku mengikuti kata pepatah ” Serahkan Suatu Urusan Kepada Ahlinya ” hehehe. Menu makanan kami malam itu adalah hidangan seafood, mulai dari ikan bakar,kepiting, dan ikan goreng. Aku ingin memanjakan tamu tamu ku yang mungkin selama ini tidak pernah puas menyantap hidangan seafood dengan porsi banyak di Kota kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Ya iyalah, selain harga seafood yang sangat mahal, seafood yang dihidangkannya pun udah gak fresh from the oven.

 

<img src="tour wakatobi.jpg" alt="perjalanan di kapal saat tour ke wakatobi">
Eksis Foto Saat Perjalanan ke Wakatobi
Jam menunjukkan pukul 16.00 WITA. Jika kapal cepat itu menempuh waktu perjalanan yang wajar maka rombongan ku akan tiba pukul 17.00 WTA di Wakatobi. Dan, umur panjang tiba tiba telpon dari mbak sonia pun kembari berdering. ” Mbak, sekarang kita udah nyampe di Wakatobi, apa kita turun di sini ? ” ,, ” Gak mbak , bukan di pulau itu turunnya. Masih harus lanjut lagi perjalanan sekitar 1 jam lagi “, jawabku. “Owhh gitu,, okee deeh..mbak kitaa udah laper nii, ntar kalo udah nyampe kita bisa langsung makan malam gak ?,, Mbak sonia mulai curhat”. ” Bisa mbak, makan malam nya juga udah siap kok nii,,”. ” Oyaa mbak?? dari suaranya dia sangat senang sekali dan dengan antusias dia bertanyaa lagi , “Menu nyaa apaa mbak ??”
Aku pun tak kalah antusias nya mejawab ” Menunyaa seafood mbak, kepiting dan ikan bakar “. Aku menebak responnya dengan cepat, pasti dia akan kegirangan mendengar itu. Dan ternyata prediksiku tepat, dia sudah tidak sabar lagi ingin cepat cepat tiba di rumah dan melahap hidangan seafood itu.
Pukul 17.10 WITA, kami melihat kapal cepat lewat depan rumah saya. Oya, sedikit info rumah saya berhadapan langsung dengan laut. Sehingga kita bisa melihat langsung lalu lalang kapal yang keluar masuk Wakatobi. Dari depan rumah ku juga, kita bisa melihat aktivitas masyarakan wakatobi yang sedang memancing. Dan dari depan rumah ku juga, kita bisa melihat langsung sunset dan bulan yang muncul langsung dari peraduannya di ujung cakrawala. Oke,, kembali lagi ke cerita rombongan mbak Sonia tadi. Seperti biasa, saya udah standbye dengan HP saya karena pasti tidak lama lagi mbak Sonia akan menelpon, dan ternyata benar. HP berdering, suara mbak Sonia tampak letih. Dari suaranya saya bisa memastikan kalau mereka sudah sangat lelah melakukan perjalanan seharian dari Jakarta berangkat subuh hari dan sampai di Wakatobi menjelang magrib. Jika tidak karena kecintaan mereka dengan dunia diving, mungkin mereka tidak akan capek capek melalui rangkaian perjalanan yang sangat melelahkan itu. ” Mbak dimana ? Kita udah nyampe ni..” .. ” Iyaah mbak, bentar lagi ada orang yang jemput”. Dia berpikir kalau yang jemput itu adalah saya sendiri. Tapi karena saya masih sibuk berkutat menyiapkan hidangan makan malam bersama ibu dan tukang masak saya, maka saya menyuruh tour guide saya yang sebelumnya telah saya kontrak..hehe.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di rumah ku. Orang pertama yang mereka cari adalah saya sendiri. Tapi berhubung saya masih di rumah tetangga menyiapkan kamar mandi yang akan mereka pakai untuk mandi dan lain lain , maka mereka hanya bertemu dengan ortu dan team team aku yan lain saja. Maklum, rumah saya sendiri yang dipakai untuk akomodasi mereka selama diving di Wakatobi cuma memiliki satu kamar mandi. Kasian kan kalau mereka harus antri, untuk itu saya mengambil inisiatif untuk menyewa kamar mandi tetangga saya untk memudahkan mereka.  Tapi ternyata mereka sudah cukup nyaman menggunakan satu kamar mandi saja. Bagus lah, ternyata mereka menerapkan prinsip ‘Tertib dalam Mengantri “.
Mereka cukup excited dengan rumah saya. Apalagi mbak Sonia, dia pikir karena konsep wisata kali ini nginep di rumah warga maka rumah  yang disediakan itu sangat sangat tradisional. Tapi mereka sangat terkejut karena menurut mereka rumahnya sangat nyaman apalagi ditambah rumah saya langsung berhadapan dengan laut. Salah satu dari mereka ingin langsung night dive saat itu juga. heheheh, dasar maniak diving yaa.. kalo udah sangat menjiwai jadi nya bisaa seantusias itu ketika melihat laut bawaannya ingin langsung nyebur.

 

<img src="homestay di wakatobi.jpg" alt="homestay di wakatobi berupa rumah warga setempat">
That’s My Home
Jrenggg..jrenggg.. saat nya makan. Untuk sesi makan malam kali ini, saya sengaja membuat mereka makan seolah olah di saung saung sawah. Tempat mereka bersantap, bener bener merakyat dan sarat akan suasana pedesaan. Makan di balai balai yang di bawah nya adalah laut. Mereka suka dengan tempat itu. Dtambah lagi ketika mereka melihat santapan malam itu.. Seafood fresh from the oven. Sampai sampai salah satu peserta menghabiskan kepiting seorang diri.

 

<img src="kuliner wakatobi.jpg" alt="kuliner wakatobi dari seafood">

 

Antusias dalam Menyantap Kepiting di Wakatobi
<img src="menyantap kuliner wakatobi.jpg" alt="menikmati kuliner wakatobi">

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *