Memilih Gaya Tidur di Kereta
Jawa Tengah,  Wisata Indonesia

Memilih Gaya Tidur di Kereta

Memilih Gaya Tidur di Kereta РPostingan ini adalah lanjutan dari postingan Pertemuanku dengan Mereka di Stasiun Senen. Tepat pukul 16.20, kami semua sudah duduk manis dalam kereta. Aku menempati kursi dari 2 orang cewek yang memilih naik bus. Wajarnya sih aku harus duduk di gerbong terpisah dari mereka. Namun karena kemurahan hati Sang Tuan Muda Ezza akhirnya aku pun bisa duduk bersama mereka di gerbong dan satu kursi yang sama. Sementara Reni dan Jaya terpisah dari kami. Ya mungkin memang seperti itu lah Tuhan berkehendak terhadap hubungan mereka,,hahaha. Tuhan ingin memberikan waktu untuk mereka saling mengenal lebih dalam tanpa gangguan dari suara suara berisik kami. Dan aku sangat menghormati garis Takdir.

Aku memilih duduk dekat jendela. Duduk dekat jendela bisa mengantarkan aku tenggelam dalam memori saat aku melakukan perjalanan perjalanan sebelumnya. Saat aku bisa dengan sangat dekat melihat kereta tiba tiba harus melintasi track yang di bawahnya jurang, sungguh pemandangan yang membuatku selalu mengucap syukur masih diberikan napas untuk bisa menikmati ketegangan hidup ini. Tiga cowok lainnya yakni Ezza,Lingga, dan Hendra saling dorong mendorong untuk menempatkan diri siapa yang akan duduk di dekat jendela juga tepat di depan ku. Mungkin mereka merasa was was akan kedamaian nasib mereka selama di perjalanan kali yahh,,wkwkwkw..Entahlah,, tapi aku tak peduli dengan tingkah mereka. Aku hanya tenggelam dalam lamunan ku, mencoba mengumpulkan potongan potongan memori yang hampir hilang. Dan akhirnya,, terpilih lah Hendra yang mendapatkan kesempatan untuk duduk di depan jendela tepat di depan ku. Aku gak tahu apa itu merupakan anugrah atau awal musibah untuk dia,,hahaha. Disusul oleh Lingga di sampingnya dan paling ujung adalah Ezza. Ezza sebenarnya kebagian tempat duduk di belakang kursi kami, tapi karena dia gak ada teman ngobrol akhirnya dia memilih berdesak desakan di kursi yang tidak terlalu panjang menurutku.

Tak lama setelah kami menempati tempat duduk kami masing masing, akhirnya keretanya pun berangkat meninggalkan Kota Jakarta. Aku seperti mengalami de javu. Moment moment seperti ini sangat akrab dengan kehidupan ku kala itu. Dan sekarang aku mengalaminya bukan hanya dengan satu orang, tapi ada 3 orang asing yang ada di depan ku. Orang orang yang sebelumnya hanya aku kenal selama 2 minggu di dunia maya (a.k.a Whatsapp). Mereka lah yang menjadi orang pertama yang membuka kembali lembaran cerita perjalanan ku. Dan Aku akan memberikan penghargaan yang sangat istimewa untuk mereka.

Kami pun menyambung obrolan yang sempat putus saat di stasiun tadi. Suatu usaha untuk bisa memahami lebih dalam teman perjalanan. Karena kata pepatah “Tak Kenal, Maka Tak Sayang”. Aku melemparkan pertanyaan pertanyaan ke mereka mulai dari yang penting,sedang, sampai gak penting sekali pun. Mulai dari pekerjaan mereka, tempat kerja mereka dimana, dan sampai umur mereka. Dan hanya masalah umur yang mereka gak jujur. Ya mungkin karena kalau ngebahas umur selalu senstive ya?? sama dengan bahasan tentang status mu. Seperti kata Ezza, yang tidak boleh ditanyakan kepada orang itu adalah status dan umur. Padahal alasan kenapa aku menanyakan umur ke mereka adalah agar aku bisa menyesuaikan perlakuan aku ke mereka. Kalau mereka seumuran dengan ku ya gak masalah kali ya kalau aku tendang tendang,,hahaaha.. Mendengar alasan itu, akhirnya Lingga langsung menyebut umurnya 43 Tahun. Dan saat itu aku sempat percaya,,wwkwkwkwkw. Dari obrolan itu akhirnya aku hanya bisa tahu kerjaan mereka apa dan tempat kerjanya. Hendra kerja nya adalah IT di Telkom, ya sesuailah dengan tampang nya yang hampir mirip tampilan Microsft,,hahahaha..Lingga kerja di freeport di Timika (sempat shock dengar ini,,jauh bener), ya sesuailah dengan fisiknya yang keras. Tampaknya dia sudah melalui hidup yang sangat keras di negeri orang,,hahaha. Dan Ezza sang pedagang ulung,,bakatnya ini terlihat ketika dia berhasil menjual tiket kapal Ferry Siginjai yang tidak terpakai. Bener bener generasi calo,,hahaha. Akhirnya obrolan kami terus bergulir tak tentu arah. Topiknya random, mulai dari bahas film Phscyo, film travelling, dan obrolan obrolan absurd lainnya. Sampai berhenti di satu titik dimana aku mulai bosan dan memilih untuk tidur.

Kereta itu adalah suatu kendaraan yang membuat ku mencoba 1000 gaya untuk mendapatkan posisi tidur yang nyaman. Berbagai cara sudah kutempuh, mulai dari menyandarkan kepala di kaca, menyandarkan kepala di kursi, posisi miring ke kiri dan miring ke kanan sudah kucoba. Namun hasilnya nihil, aku sama sekali belum mendapatkan posisi yang enak dari berbagai pergantian gaya yang aku lakukan. Akhirnya aku pun mengeluarkan jurus andalanku yakni melakukan Modus. Aku pura pura menyandarkan kepala ku dengan tidak sengaja ke bahu orang disampingku, tapi dia adalah cewek jadi halal lah,,hahaha. Trick ini cukup berhasil. Aku bisa terlelap sebentar walau hanya 7 menit.

Memilih Gaya Tidur di Kereta

Tiga Lelaki Asing Yang Jadi Travelmateku (Hendra,Lingga,Ezza)

Aku pun mencoba cara berikutnya, aku meminjam jacket Hendra untuk aku jadikan penyanggah saat aku menyenderkan kepala ku ke jendela. Lagi lagi cara ini ampuh tapi tak bertahan lama. Dan akhirnya aku menyerah, aku memilih terjaga sepanjang malam dan mengajak ngobrol cewek di samping ku. Cewek itu bernama Mila, dia hendak menuju Pare Kediri untuk mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya. Memang bahasa Inggris sekarang merupakan salah satu orientasi penting bagi tiap orang ya.. Sampai sampai ada yang rela menempuh perjalanan jauh dari Jakarta sampai Kota Kediri dan melalui pengalaman tidak mengenakkan saat tak mendapat gaya yang enak untuk tidur dalam kereta. Kami ngobrol sepanjang malam dan dia menceritakan pengalaman pengalaman menariknya saat Travelling sendiri di Malaysia. Anaknya seru, kami sempat bertukeran no HP dan ternyata itu bermanfaat saat Hendra ketinggalan dompetnya dalam kereta. Dia adalah dewi penolong Hendra. Sampai aku menyarankan Hendra untuk melamarnya saat dia kembali ke Jakarta,, hahahaha..Seperti itulah sepenggal kisah ku dalam kereta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *