Bulan Ramadhan
Culture & Habit

Penghujung Bulan Ramadhan

Saat ini aku harus nya menulis tanggal 28 Juli 2014. Tapi apa boleh dibuat, saat itu aku masih sibuk dengan perayaan rutin yang selalu terjadi tiap tahun kala Lebaran. Apalagi kalau bukan tamu tamu, nyekar di kuburan nenek nenek moyang dan tentunya acara Silat yang menjadi tontonan satu satunya pasca lebaran. Moment itu juga yang mempertemukan muda mudi di kampungku untuk hanya sekedar say hallo dan tatap muka. Maklumlah, banyakan muda mudi di kampungku merantau. Jadinya moment moment lebaran banyak digunakan untuk ajang saling melepas kangen dan tentunya ajang cari jodoh, mungkin. Entahlah,,hanya mereka yang tahu karena mereka yang punya urusan.

Bulan Ramadhan

 

Lebaran kali ini terasa aneh dari lebaran lebaran sebelumnya. Kenapa aku bilang aneh?? Yupp itu karena aku melewatkannya tanpa ibuku dan banyak kejadian menyedihkan yang menimpa kami. Kakekku dari pihak ibu meninggal. Saat itu aku masih di Pulau Hoga saat dikabarin. Jarak antara pulau Hoga dan Pulau Kaledupa butuh waktu tempuh 30 menit. Waktu yang sangat lama jika ortuku harus menungguku untuk bergegas ke Pulau Tomia mengejar pemakaman kakekku. Oya,,aku hampir lupa kakekku tinggal di pulau berbeda dari Kami. Dan membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam untuk mencapainya menggunakan boat reguler. Dan akhirnya hanya ortu dan adikku saja yang sempat ke Tomia saat itu dan aku ditinggal jadi penunggu rumah. Aku pikir mereka akan sebentar di Tomia Tapi ternyata lama. Berhubung musibah berikutnya menimpa kami lagi. Pamanku, suami dari kakak nya ibuku meninggal juga karena gula. Aisshh,,aku jadi merinding tentang kematian. Aku selalu berdoa agar orang tua kami tetap utuh selalu. Karena kami masih sangat kecil. Alhasil aku jadi penunggu rumah sampai lebih dari 10 malam. Aku masak sendiri untuk sahurku tiap malam. Tapi aku bersyukur dengan kondisi itu. Setidaknya aku bisa belajar disiplin dan mandiri.

Saat malam takbiran, aku dan ayahku dibantu oleh kedua adikku saling bahu membahu untuk mempersiapkan menu lebaran kami esok harinya. Tidak ada menu spesial. Kami hanya memasak ayam yang resepnya kami dapatkan dari hasil konsultasi dengan ibuku via phone. Sebenernya aku ingin meminta bantuan om google, tapi apa boleh dikata resep yang diberikan pasti harus membutuhkan bumbu yang sangat banyak. Dan kami belum sempat berbelanja bumbu yang banyak itu. Jadi apa boleh dikata, terimalah nasib yang ada.

Dan kami sudah sangat senang dengan kondisi lebaran kami saat itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *